Kilas Bilas Sebelum Melangkah
Sore hari di 11 juni 2020, aku terbaring diatas Kasur sambil ku pandangi langit-langit kamarku, hening sepi terlintas pertanyaan yang muncul dalam pikiranku,,,, “Mahar apa yang ku mau ketika aku menikah kelak?” pertanyaan yang kubuat dan harus juga aku pikirkan jawabannya.
Sejujurnya aku tidak pernah mengidam-idamkan mahar apa, ataupun membatasi diriku dengan suatu barang tertentu, aku selalu menggunakan landasan, bahwa “perempuan yang baik adalah yang murah maharnya.” Berkaca pada pernikahan para Sahabat Nabi, bahkan sampai ada yang menikah dengan mahar sebiji kurma.
Lantas mengapa aku harus membatasi diriku dengan barang2 mahal sedangkan yang akan aku lakukankan adalah kebaikan, menjalankan syariat agama, sama halnya dengan mengokohkan agama Islam, mendalamkan cinta pada Allah dengan menjalankan apa yang diperintahkan dan menjauhi larangannya. Bukan berarti aku merendahkan harga diriku, tapi aku tidak ingin mempersulit suatu kebaikan dijalan Allah. Aku pahami betul laki-laki yang baik pun akan memberikan yang terbaik sesuai dengan kemampuannya, sebagai bentuk cinta dan kasih sayangnya yang juga lillahi ta’ala. Karena mahar yang ia berikan akan memberikan nilai sedekah baginya.
“ kasih sayang dan cinta tidak diukur dengan seberapa wah suatu
pemberian”
Menulis ini pun tidak gampang, teman…..
Tidak berakhir disini, teringat tentang pernikahan impian. Lagi-lagi aku tidak memiliki angan2 tentang pernikahan impian yang sebagaimana diimpikan…
“ cukup bagiku, menjalankan pernikahan dengan tidak berlawan dengan
syari’at”.
Mulai dari gaun penganti (Syar’i), tanpa pre-wedd. Menikah syari’ah, tak perlu mewah, sah lillah dan dalam Ridho Allah”. Simple, tapi adat kebudayaan dan keinginan keluarga yang belum tentu sama, harus sedikit butuh usaha keras…..
Menurutku pernikahan bukan ajang gengsi-gensian, apalagi harus menghambur-hamburkan uang. Jika memang memiliki rizqi berlebih bisa digunakan untuk melanjutan kehidupan kemudian hari, Karena dalam benakku “ apa artinya menikah mewah, tapi esok makan saja susah?
Bukannya, ibadah akan terganggu jika lapar?...
Pernikahan diawali dengan niat ibadah, menjalankan sunnah dan inti pokoknya menjalankan apa yang Allah perintahkan agar terhindar dari zina dan fitnah. Membangun rumah tangga dengan niat lillah sama halnya dengan berjuang menegakan kokohnya Agama Islam.
Betul, “ menikah menyempurnakan agama”..
Dengan menikah juga menciptakan ketentraman dan kedamaian... Tentu saja harus didasari dengan keimanan dan ketakwaan. Menyatukan dua insan manusia yang berbeda tidak mudah, semua orang memiliki sifat dan sikap yang berbeda-beda. Namun cinta yang dipupuk dengan keimanan dan ketakwaan, akan membiaskan memudarkan melemahkan perbedaan yang ada.
Laki-laki yang beriman dan bertakwa akan mencintai dan bersikap baik terhadap istri dan keluarganya, begitu juga Perempuan yang beriman dan betakwa akan senantiasa menghormati dan bersikap baik terhadap suami dan keluarganya.
Kata yang sering ku dengar adalah wanita sulit di mengerti, memang betul demikian aku sebagai perempuan yang kadang mengerti diriku saja rumit. Tapi tidaklah kita mencontoh pada kisah cinta Rasulullah,
Bagaimana ketika Ibunda Aisyah merajuk, cemburu, dan bermanja, tapi
Rasulullah memperlakukannya dengan sangat lembut.
Begaimana ketika Ibunda Khadijah yang usia dan kekayaannya melebihi
Rasulullah tetapi tetap hormat, taat kepada suaminya.
“ Bukankan Rasulullah dan Istri-istrinya saling mencintai dengan
dipupuk keimanan dan ketakwaan”
# maka sangat penting memilih pasangan dengan berlandaskan pada
agama dan akhlaqnya, rupa indah, harta berlimpah belum tentu menjamin sakinah
MasyaAllah
BalasHapusalhamdulillah ,,, terimakasih sudah baca.
Hapusbaca yang lain jugaa yukkk.....
mantap ata
BalasHapuslanjutkan
alhamdulillah ,,, terimakasih Ataaaa sudah baca.
Hapusbaca yang lain jugaa yukkk.....
MasyaAllah pupuyyy ditunggu tulisan lainnya😇
BalasHapusalhamdulillah ,,, terimakasih sudah baca kak nev.
Hapusbaca yang lain jugaa yukkk kak hehe.....
nanti di lanjutin InsyaAllah,,