Jumat, 28 Agustus 2020

Menikah bukan pada cinta yang salah,

Cinta Yang Salah

Seketika asa indahku hancur melebur tak berkeping. Rasanya sudah sulit untuk aku percayai bahkan itu sebuah janji.

Waktu berlalu, dan aku terbiasa jua Kembali ku membuka hati, yang ku pikir saat itu adalah kesalahan yang sama pada akhirnya…

Yang aku tahu ternyata mencintai bukan hanya soal kamu ada dan tanggungjawab bukan soal mencukupi materi, tapi harus saling mengerti sifat, kebutuhan, profesi, dan menyatukan prinsip. Karena Bersama itu bukan soal aku dan kamu, tapi KITA.

Akhirnya pula, semua semakin berbeda, ternyata bahagiaku sejatinya bukan disana.

Saat aku terluka, aku seakan meminta agar ku temui penyembuh, hanya karena “ salah mencintai “ luka bukannya sembuh tapi semakin parah. . .

Banyak hal yang ternyata tidak bisa diimbangi karena perbedaan, dan terlalu memaksakan dengan alasan “sayang” dan tidak ingin menyakiti …

Sampai lelahnya hati, ku putuskan pergi . . .

Berandai-andai, Dia berusaha lebih keras lagi, mau mengimbangi diriku, karena selama ini aku berusaha mengimbangi dan menghargai dia.

Tapi sudahlah, aku tau cinta itu salah sedari awal aku sudah menyadarinya…

Lagi-lagi dipertemukaan pada kenangan masa silam, kisah lama sejak SMA. Aku berpikir dia tak sama, dia tak seperti dan dia jauh lebih baik, dia mengerti prinsipp ku dan kesamaan pada pandangan soal kesejatian.

Semudah dipertemukan mengukir keindahan mengisi hari-hari dengan rencana kedepan, hampir saja merencanakan pernikahan, bahkan sedang Menyusun satu per satu Langkah ke arah itu, , ,


Namun, indah Pelangi tak abadi . . .

Nyatanya kontradiksi, sama tapi tak seirama, mengerti tapi tak berhati, mengimbangi tapi tak melengkapi. . .

Satu kejadian terakhir, dimana argumentasi, hati bersebrangan, terucap bahwa ada keharusan aku untuk mengerti, tanpa dia harus mengerti. Aku harus mendengar tanpa dia perlu mendengarkanku, ingin Bersama tapi tidak dijalan yang sama, mana bisa?

Menuntutku untuk Tangguh, padahal aku rapuh dan dalam rapuhku, tak sedikit pun dia mau tahu …

Aku semakin terpukul, luka kian menjadi besar. Aku memilih mengundurkan diri saat itupun keyakinan ku pudar. Tidak sedikit pun lagi aku bisa bertoleransi pada hatiku yang terluka kedua kalinya oleh orang yang sama.

Hanya amarah dan rasa sudah tak bisa bertahan, dia seakan mau benar, bahkan mungkin lupa pada ucapannya sendiri.

Sejujurnya, sejak pathnya yakin itu … sudah tak lagi ada celah untuk menyatukan, tapia da kata yang terlalu jauh, sehingga bila di akhiri pun tak hanya aku yang merasa kecewa.

“Menikah bukan soal mengatakan “SIAP”!!!. Bukan hanya merencanakan tanpa Tindakan, bukan visi tanpa misi, bukan hanya datang bertanya soal konsep pernikahan, atau seberapa mahar yang diinginkan. Sedangkan dirimu saja tidak mempersiapkan apa-apa dan tidak melakukan apa-apa selain mengatakan rencana yang hanya wacana.



Cinta yang salah,

Salah berpikir,

Salah berpandangan,

Tapi tidak salah untuk di jadikan pelajaran.


Semoga kisah ini, hanya menjadi kisah sepenggal kisah

Tak menjadi apa dan mengapa pada kisah cinta mu..


Menangis karena sepi,

Menangis karena menahan rindu,

Lebih menenangkan,

Daripada menangis karena menyesali

Suatu kesalahan dalam mencintai…



Bersabarlah untuk cinta yang benar,


Jumat, 26 Juni 2020

Biarkan Sang Waktu Bicara (Part 1)

Biarkan Sang Waktu Bicara

                             Kita Memulai, dan Takdir yang mengakhiri




PART 1 
cr: @Puyasqi

Biarkan Sang Waktu Bicara

 

Diam bukan berarti tidak berjuang,

Hanya saja tidak terlalu mendramatisi hal yang belum tentu terjadi,

Bukan pula tidak berharap,

Tapi harapan bisa jadi sebab kehampaan yang berujung luka,

 

Aku hanya percaya bahwa skenario Sang Pencipta lebih indah dari bayang dan angan.

Biar waktu berikan jawaban,

Biar lelah menjadi alasan berhenti

Biar aku dan kamu jadi kita

Sebab takdirlah yang menyatukan

 

 

 

Doa yang ku persembahkan

Untuk manusia yang tidak ku tulis namanya





PERTAMA SEJAK AKU TAHU,

NAMA MU ADALAH KAMU

 

Aku adalah Vikta Yanra Triasti, nama yang sudah melekat dan tak lepas dari nama yang disebutkan guru disekolah saat mengabsen siswanya. Banyak orang yang tak mengenaliku karena memang aku tidak begitu tertarik untuk dikenali banyak orang entah kenapa kadang aku hampir saja benci dikeramaian lelucon manusia.  Ya mungkin pohon mangga atau tangga gedung lain disekolahku pun tak pernah mengenaliku. Setiap pagi biasanya antara jam 06.50 aku sudah berada disekolah, udara yang masih segara dan pintu kelas yang masih tertutup padahal aku tau dia rindu untuk ku sentuh setelah hampir 17 jam berpisah.

Aku adalah siswi kelas 11  salah satu SMA favorit di kota ku, ruang kelasku berada di lantai dua tak jauh dari ruang guru yang pintunya hanya 1,5 meter dari tangga menuju ruang kelasku. Sekolahku berada di pinggir jalan (baik, kalau di tengah jalan kendaraan mau lewat mana) resikonya ya kadang berisik-berisik suara kendaraan memang tak seberapa berisik. Sambil santai depan kelas, ku pandangi hilir mudik dijalanan. Datanglah manusia memang manis tapi sedikit banyak bicara I Think everybody know, she is Ayana Marisa.

“selamaaaaaat pagiiii Vikta ku”, sapanya menyodorkan muka tepat di depan mataku.

“hihh… kamu yaaa … jaga jarak dong”. This is me sedikit dingin kadang begitu Ayana biasa bilang padaku.

Ayana menarik mukanya dan berdiri menemaniku menjadi saksi motor dan mobil yang sliweran.

“ Mar (panggilan antimainstreamku untuk Ayana), kamu simpen dulu ke tas kamu ke kelas”. Ku pandangi tas punggung coklat yang besar dan entah apa isinya, kelihatannya penuh.

“ yuk,,, temenin dong sama kamu Vik” sambil menarik tanganku.

Terpaksa saja  aku ikut, dan duduk di samping Ayana, ya karna dia duduk berbeda kursi dan satu meja denganku (bukan duduk satu meja ya,,,,).

Jam terus berputar kearah biasanya, sudah jam 7.15 rupanya. Satu per satu penghuni kelas IPS 1 mulai berdatangan. Ada yang masuk ke kelas dan duduk berdiam diri, ada yang masuk kelas nyimpen tas dan go nongkrong depan kelas jadi saksi hilir mudik kendaraan seperti yang ku lakukan tadi. Sekolah tampak makin ramai dan bel jam pelajaran pun berbunyi. Semua anak masuk kelas masing-masing duduk rapi atau bergurau ria hingga guru datang, meskipun sadar atau tidak kita masih akan tetap bergurau walau pelajaran sudah dimulai. Tapi ada yang tidak biasa pagi ini, di bangku itu duduk seorang laki-laki dengan mata lumayan kecil, postur tubuh ideal, tinggilah bisa dibilang begitu. Bagiku dia aneh karena aku baru pertama kali melihatnya. Namun bagi temanku yang lain nampaknya biasa saja. Dengan segenap jiwa penasaran, aku tanya Ayana dengan pelan.

“ itu siapa Ay? Anak baru ya?.

“ iya dia baru dikelas kita, tapi dia dulu satu SMP sama aku vik, sama anak yang lain juga sih.  Jawab Ayana.

“ oh, pantesan aja kalian kaya udah kenal lama, dia pindahan?. Tanyaku lagi

“ iya pindahan dari gedung sebelah vik”

“ anak SMA sebelah maksud kamu?  Tapi kok aku ga pernah liat ya Ay.

“ iya, lahh iyalah jangankan dia yang bisa jalan,  tiang bangunan belakang aja kamu ga pernah liat yang tiap hari disitu-situ aja.  Dengan di akhiri tawa puas Ayana seolah atau memang benar mengejek ku.

“ ya buat apa kali Ayana Marisa, aku ketemu tiang bangunan, kamu sehat?”.

“ makanya kalau ke sekolah tuhh ya, kali-kali kamu keliling-keliling gitu vik biar tau lingkungan sekitar!”.

“ masih sehat sihh kalau aku Ay, ga kurang kerjaan kaya kamu”.

Diskusi singkat yang cukup mengobati penasaranku berakhir karena guru sosiologi sudah mengucap salam dan masuk ke dalam kelas. Seperti biasanya beliau ini membagikan ilmu pengetahuannya hingga bel istiarahat berbunyi.

Sheril, Anita, Dheana, Nura, Nispa, Ayla, dan lain-lain yang duduk di barisan samping serta bangku belakangku. Berdiri meninggalkan singgasana. Layaknya anak sekolah lain, kalau istirahat ya pergi ke kantin. Tapi  lain lagi dengan aku dan Ayana yang lebih senang duduk dikelas atau nongkrong depan kelas ya kadang-kadang juga beli camilan sihhh…

“ vik, ke kantin yuk!” ajak Sheril padaku sambil merangkul Pundak ku.

“ belum mau Sher, tar aku nyusul deh yaa”

“ ya udah, kamu Ayana mau ikut ga?” menatap Ayana tajam karena memang si imut ini ya memang imut dehh…

“ tar yaa sher, aku sama vikta dulu”

“ duluan kalau gitu, yaa…”. Pungkas Sheril

“ sippp,,, sana “ ku lepas rangkulan sheril dari Pundak ku dan seolah mendorongnya pelahan menuju pintu ku ikuti langkah kakinya.

“ daah Sher, aku sini aja yaa.”  Ku senderkan punggung pada tiang besar depan kelasku.

“ dahhh vikta….. “ Sheril pergi perlahan dari pandangan mataku.

Ayana yang juga berjalan mendekatiku berbarengan dengan sosok baru itu, tampak Ayana sedang menanyakan sesuatu padanya. Seru sihh kayanya ….

Ayana berdiri disampingku dan juga ada dia disamping Ayana. Mata ku seolah tak melihatnya dan mata dia pun seolah tak melihatku. Ahh dasar aku yang kadang masa bodo… aku hanya mendengarkan obrolan mereka tanpa ikut menanyakan apapun. sedangkan mataku  fokus tertuju pada satpam sekolah yang sedang mengobrol dengan siswa lain dikursi taman depan sebrang gerbang sekolah. Cepatnya waktu, 30 menit berlalu jam istirahat habis dan kami pun masuk kembali untuk pelajaran selanjutnya. Sebenarnya sih, nanti waktu zuhur istirahat lagi buat shalat.

Ibu cantik guru ekonomi Nampak sudah siap menjelaskan jurnal umum, bukan hal aneh bagi anak IPS maa beda sama anak IPA yang banyak belajar rumus Fisika, Kimia, dan rumus hidup (Biologi). IPS juga ada rumusnya sihh yaitu rumus bersosial dan rumus menghitung agar mendapatkan sisi debit dan kredit yang seimbang dengan keuntungan yang sebesar-besarnya, meskipun itu Cuma uang dalam bentuk angka dalam angan dengan harapan suatu hari jadi kenyataan. Ya minimal jadi Chairul Tanjung dehh… Sebelum masuk materi, satu per satu nama disebut (ini dia nih ritual absen dikenalnya).  Hingga nama terakhir disebutlah Peter Aditama Giarga yang ternyata adalah nama siswa baru itu.

Kepalaku berputar kearahnya, hanya memastikan bahwa dia benar bernama Peter Aditama Giarga. Suasana kelas berubah menjadi sangat hening, hanya suara guru ekonomi saja yang terdengar. Entah mereka fokus belajar atau mereka fokus pada ketidak mengertiannya. Sampai tak sadar matahari mulai meninggi, terdengarlah kumandang adzan dari sekolahku. Siapapun pada saat itu membubarkan diri istirahat dan untuk mengisi daftar hadir akan panggilan Sang Pencipta dengan melakukan ibadah Shalat zuhur.

Seusai istirahat shalat, kami kembali ke kelas melanjutkan ke pelajaran terakhir. Saat itu jiwa dan raga sudah tak sejalan, raga dikelas sedangkan jiwa sudah dijalanan menuju rumah. Jadilah belajarnya ga kondusif. Ditambah lagi kalau kelas sebelah udah pulang duluan. Wahh makin tak menentulah jiwa ini. Sampai akhirnya terdengar “ jam pelajaran telah selesai, seluruh siswa diharapkan pulang kerumah masing-masing” (bukan ngusir,, maksudnya ga mampir-mampir apalagi melipir dulu gitu). Aku bergegas merapikan buku kedalam tas dan bangkit dari dudukku.

“Ay, aku pulang duluan yaa,,” kataku pada Ayana yang juga sedang bersiap pulang. “ya udah Ay, duluaaan yaaa , dahhhh !!! “ tanpa menunggu Ayana menjawab aku keluar kelas.                                          

Jam 14.30 aku tiba dirumah, ku dorong pintu “ kreeeeeeekkk” dan ku ucap salam. Halusnya suara ibu menjawab salamku dikejauhan, nampaknya sih ibu lagi masak didapur.

“dah pulang vik?” tanya ibu jauh disana. Ku lepas sepatuku, bergegas menghampiri ibu dan ku cium tangannya tak lupa menjawab pertanyaannya.

“iyaa bu,, cape sekali aku hari ini bu” ujarku letih.

“ya sudah istirahat, ganti baju, terus makan. Tadi ibu bikin ayam kecap kesukaan kamu vik” jawab ibu lirih dan menghapus wajah lelahku.

“yeee ,,, makasihh yaa bu. aku masuk kamar dulu yaa bu, nanti aku makan”. Aku tinggalkan ibu, pergi ke kamar.

“kreeeekkkkk” ku buka pintu kamarku, Nampak Kasur dengan seprei biru menyambutku agar segara berbaring. Ku simpan tas ku diatas meja. Dan seketika ku lempar badan ini diatas Kasur, rasanya memang sangaat lelah. Mataku terpejam melepaskan apa yang kurasakan.

Setelahnya, ku raih Handphone diatas meja kecil samping tempat tidurku. Tak ada pesan atau notifikasi apapun, keadaan ini memacu jariku untuk membuka aplikasi facebook. Aku lihat postingan diberandaku. Begitu banyak dan begitu beragam, mulai dari yang galau standar sampai galau hyper, ada juga yang lagi puitis-puitisnya mendeskripsikan cinta. Hmmm.. unik sekali manusia-manusia ini gumamku. Namun jariku terhenti pada sebuah postingan photo terbaru akun yang bernama Tama Giarga, dahiku mengkerut heran. Kenapa wajah pemilik akun ini mirip sekali dengan murid baru dikelasku. Niat hati kepoin timelinenya, apalah daya mataku terasa berat, tak sadar aku tertidur.

30 menit, aku terbangun. Saat itu aku sadar masih mengenakan seragam sekolah. Bergegas mandi dan melakukan aktifitas yang seharusnya manusia lakukan.

“vik, kamu baru bangun ya?, ayo makan dulu! Keburu dingin nih ayam dicuekin kamu.” Panggilan ibu yang mengejutkanku yang sedang berdiri didepan cermin.

“iyaa bu, sebentar lagi”. Sambil ku putar badan ku arah pintu kamar.

“ibu sudah makan?” tanya ku sambil memilih piring di rak.

“sudah, dari tadi ibu tunggu kamu… ehh Taunya tidur” kata ibu sedikit sinis dengan mata terfokus mengupas mangga.

“hehehe….” Tanpa bicara Panjang aku langsung saja makan.

“Assalamu”alaikum!” suara ayah yang baru saja pulang kerja.

“waalaikumussalam” jawab aku dan ibu.

“wahh enaaak nii lagi makan, kayanya ayah ga disisain” canda ayah yang hanya menolehku, sambil menuju kamar.

Sebelum ku menggerakan mulut untuk menjawab ayah. Tiba-tiba ibu menyerobot dengan bangga.

“enak dong yah, kan ibu yang masak, buat ayah special udah ibu siapin kok. Mau makan sekarang?”

“tidak bu, nanti saja ayah bersih-bersih dulu nanti sehabis maghrib saja makannya.” Sahut ayah dengan lirih.

Setelah selesai makan aku seperti biasa mencuci pirang dan merapikan bekas makanku. Tidak lama kemudian berkumandang adzan maghrib, ku lihat ayah sudah siap berangkat ke mesjid dan ibu pun sudah menggunakan mukena. Segera aku bergegas ambil wudhu dan shalat di kamarku.

Hingga tibalah malam, aku termenung duduk dikursi belajarku entah apa yang sedang aku pikirkan, sangat tidak jelas sekali perasan itu untuk aku jabarkan. Dalam resahku tiba-tiba saja ku ambil handphone ku, dan ku sandarkan badanku di atas Kasur. Ku lihat kembali akun facebook yang masih saja membawa ku di atas angin dalam ketidakpastiaanku, apakah ini dia si siswa baru dikelasku. Langsung saja membuka profilnya, mengejutkan atau tidak faktanya aku sudah berteman sejak lama pada mayanya akun sosial media.

Tidak cukup puas rasanya jika tak ku pastikan dengan melihat koleksi photonya. Satu per satu ku tatapi, anganku tak meraih apa, hatiku pun tak berkata apa.  Hanya gumamku keras semakin jelas. Semua photo terlihat betul sosok manusia itu, ahhh sontak saja saat itu aku tau bahwa itu adalah benar kamu.

         Kamu manusia baru dalam nyataku dan lama dalam maya ketidaksadaran ku. Mungkin saja esok aku akan mulai mau berbicara dengan mu, atau mungkin aku akan tetap menjadi teman mayaku. Entahlah aku saat itu.

 


Kamis, 11 Juni 2020

500 Kata pernikahan Impian

  Kilas Bilas Sebelum Melangkah


    Sore hari di 11 juni 2020, aku terbaring diatas Kasur sambil ku pandangi langit-langit kamarku, hening sepi terlintas pertanyaan yang muncul dalam pikiranku,,,, “Mahar apa yang ku mau ketika aku menikah kelak?” pertanyaan yang kubuat dan harus juga aku pikirkan jawabannya.

    Sejujurnya aku tidak pernah mengidam-idamkan mahar apa, ataupun membatasi diriku dengan suatu barang tertentu, aku selalu menggunakan landasan, bahwa “perempuan yang baik adalah yang murah maharnya.” Berkaca pada pernikahan para Sahabat Nabi, bahkan sampai ada yang menikah dengan mahar sebiji kurma.

    Lantas mengapa aku harus membatasi diriku dengan barang2 mahal sedangkan yang akan aku lakukankan adalah kebaikan, menjalankan syariat agama, sama halnya dengan mengokohkan agama Islam, mendalamkan cinta pada Allah dengan menjalankan apa yang diperintahkan dan menjauhi larangannya. Bukan berarti aku merendahkan harga diriku, tapi aku tidak ingin mempersulit suatu kebaikan dijalan Allah. Aku pahami betul laki-laki yang baik pun akan memberikan yang terbaik sesuai dengan kemampuannya, sebagai bentuk cinta dan kasih sayangnya yang juga lillahi ta’ala. Karena mahar yang ia berikan akan memberikan nilai sedekah baginya.

“ kasih sayang dan cinta tidak diukur dengan seberapa wah suatu pemberian”

Menulis ini pun tidak gampang, teman…..

Tidak berakhir disini, teringat tentang pernikahan impian. Lagi-lagi aku tidak memiliki angan2 tentang pernikahan impian yang sebagaimana diimpikan…

“ cukup bagiku, menjalankan pernikahan dengan tidak berlawan dengan syari’at”.

Mulai dari gaun penganti (Syar’i), tanpa pre-wedd. Menikah syari’ah, tak perlu mewah, sah lillah dan dalam Ridho Allah”. Simple, tapi adat kebudayaan dan keinginan keluarga yang belum tentu sama, harus sedikit butuh usaha keras…..

    Menurutku pernikahan bukan ajang gengsi-gensian, apalagi harus menghambur-hamburkan uang. Jika memang memiliki rizqi berlebih bisa digunakan untuk melanjutan kehidupan kemudian hari, Karena dalam benakku “ apa artinya menikah mewah, tapi esok makan saja susah?

Bukannya, ibadah akan terganggu jika lapar?...

Pernikahan diawali dengan niat ibadah, menjalankan sunnah dan inti pokoknya menjalankan apa yang Allah perintahkan agar terhindar dari zina dan fitnah. Membangun rumah tangga dengan niat lillah sama halnya dengan berjuang menegakan kokohnya Agama Islam.

Betul, “ menikah menyempurnakan agama”..

    Dengan menikah juga menciptakan ketentraman dan kedamaian... Tentu saja harus didasari dengan keimanan dan ketakwaan. Menyatukan dua insan manusia yang berbeda tidak mudah, semua orang memiliki sifat dan sikap yang berbeda-beda. Namun cinta yang dipupuk dengan keimanan dan ketakwaan, akan membiaskan memudarkan melemahkan perbedaan yang ada.

Laki-laki yang beriman dan bertakwa akan mencintai dan bersikap baik terhadap istri dan keluarganya, begitu juga Perempuan yang beriman dan betakwa akan senantiasa menghormati dan bersikap baik terhadap suami dan keluarganya.

Kata yang sering ku dengar adalah wanita sulit di mengerti, memang betul demikian aku sebagai perempuan yang kadang mengerti diriku saja rumit. Tapi tidaklah kita mencontoh pada kisah cinta Rasulullah,

Bagaimana ketika Ibunda Aisyah merajuk, cemburu, dan bermanja, tapi Rasulullah memperlakukannya dengan sangat lembut.

Begaimana ketika Ibunda Khadijah yang usia dan kekayaannya melebihi Rasulullah tetapi tetap hormat, taat kepada suaminya.

“ Bukankan Rasulullah dan Istri-istrinya saling mencintai dengan dipupuk keimanan dan ketakwaan”

 

# maka sangat penting memilih pasangan dengan berlandaskan pada agama dan akhlaqnya, rupa indah, harta berlimpah belum tentu menjamin sakinah