Biarkan Sang Waktu Bicara
Kita
Memulai, dan Takdir yang mengakhiri
Biarkan Sang Waktu Bicara
Diam bukan berarti tidak berjuang,
Hanya saja tidak terlalu mendramatisi hal yang belum tentu terjadi,
Bukan pula tidak berharap,
Tapi harapan bisa jadi sebab kehampaan yang berujung luka,
Aku hanya percaya bahwa skenario Sang Pencipta lebih indah dari bayang dan
angan.
Biar waktu berikan jawaban,
Biar lelah menjadi alasan berhenti
Biar aku dan kamu jadi kita
Sebab takdirlah yang menyatukan
Doa yang ku persembahkan
Untuk manusia yang tidak ku tulis namanya
PERTAMA
SEJAK AKU TAHU,
NAMA MU ADALAH KAMU
Aku adalah Vikta Yanra Triasti, nama yang sudah melekat dan tak
lepas dari nama yang disebutkan guru disekolah saat mengabsen siswanya. Banyak
orang yang tak mengenaliku karena memang aku tidak begitu tertarik untuk
dikenali banyak orang entah kenapa kadang aku hampir saja benci dikeramaian
lelucon manusia. Ya mungkin pohon mangga
atau tangga gedung lain disekolahku pun tak pernah mengenaliku. Setiap pagi
biasanya antara jam 06.50 aku sudah berada disekolah, udara yang masih segara
dan pintu kelas yang masih tertutup padahal aku tau dia rindu untuk ku sentuh
setelah hampir 17 jam berpisah.
Aku adalah siswi kelas 11
salah satu SMA favorit di kota ku, ruang kelasku berada di lantai dua
tak jauh dari ruang guru yang pintunya hanya 1,5 meter dari tangga menuju ruang
kelasku. Sekolahku berada di pinggir jalan (baik, kalau di tengah jalan
kendaraan mau lewat mana) resikonya ya kadang berisik-berisik suara kendaraan
memang tak seberapa berisik. Sambil santai depan kelas, ku pandangi hilir mudik
dijalanan. Datanglah manusia memang manis tapi sedikit banyak bicara I Think
everybody know, she is Ayana Marisa.
“selamaaaaaat pagiiii Vikta
ku”, sapanya menyodorkan muka tepat di depan mataku.
“hihh…
kamu yaaa … jaga jarak dong”. This is me sedikit dingin kadang begitu Ayana
biasa bilang padaku.
Ayana
menarik mukanya dan berdiri menemaniku menjadi saksi motor dan mobil yang sliweran.
“ Mar
(panggilan antimainstreamku untuk Ayana), kamu simpen dulu ke tas kamu ke
kelas”. Ku pandangi tas punggung coklat yang besar dan entah apa isinya,
kelihatannya penuh.
“ yuk,,,
temenin dong sama kamu Vik” sambil menarik tanganku.
Terpaksa
saja aku ikut, dan duduk di samping
Ayana, ya karna dia duduk berbeda kursi dan satu meja denganku (bukan duduk
satu meja ya,,,,).
Jam
terus berputar kearah biasanya, sudah jam 7.15 rupanya. Satu per satu penghuni
kelas IPS 1 mulai berdatangan. Ada yang masuk ke kelas dan duduk berdiam diri,
ada yang masuk kelas nyimpen tas dan go nongkrong depan kelas jadi saksi hilir
mudik kendaraan seperti yang ku lakukan tadi. Sekolah tampak makin ramai dan
bel jam pelajaran pun berbunyi. Semua anak masuk kelas masing-masing duduk rapi
atau bergurau ria hingga guru datang, meskipun sadar atau tidak kita masih akan
tetap bergurau walau pelajaran sudah dimulai. Tapi ada yang tidak biasa pagi ini, di bangku itu duduk seorang
laki-laki dengan mata lumayan kecil, postur tubuh ideal, tinggilah bisa
dibilang begitu. Bagiku dia aneh karena aku baru pertama kali melihatnya. Namun
bagi temanku yang lain nampaknya biasa saja. Dengan segenap jiwa penasaran, aku
tanya Ayana dengan pelan.
“ itu siapa Ay? Anak baru ya?.
“ iya dia baru dikelas kita, tapi dia dulu satu SMP sama aku vik,
sama anak yang lain juga sih. Jawab
Ayana.
“ oh, pantesan aja kalian kaya udah kenal lama, dia pindahan?.
Tanyaku lagi
“ iya pindahan dari gedung sebelah vik”
“ anak SMA sebelah
maksud kamu? Tapi kok aku ga pernah liat
ya Ay.
“ iya, lahh iyalah
jangankan dia yang bisa jalan, tiang
bangunan belakang aja kamu ga pernah liat yang tiap hari disitu-situ aja. Dengan di akhiri tawa puas Ayana seolah atau
memang benar mengejek ku.
“ ya buat apa kali Ayana Marisa, aku ketemu tiang bangunan, kamu
sehat?”.
“ makanya kalau ke sekolah tuhh ya, kali-kali kamu
keliling-keliling gitu vik biar tau lingkungan sekitar!”.
“ masih sehat sihh kalau aku Ay, ga kurang kerjaan kaya kamu”.
Diskusi singkat yang cukup mengobati penasaranku berakhir karena
guru sosiologi sudah mengucap salam dan masuk ke dalam kelas. Seperti biasanya
beliau ini membagikan ilmu pengetahuannya hingga bel istiarahat berbunyi.
Sheril, Anita, Dheana, Nura, Nispa, Ayla, dan lain-lain yang
duduk di barisan samping serta bangku belakangku. Berdiri meninggalkan
singgasana. Layaknya anak sekolah lain, kalau istirahat ya pergi ke kantin.
Tapi lain lagi dengan aku dan Ayana yang
lebih senang duduk dikelas atau nongkrong depan kelas ya kadang-kadang juga
beli camilan sihhh…
“ vik, ke kantin yuk!” ajak Sheril padaku sambil merangkul
Pundak ku.
“ belum mau Sher, tar aku nyusul deh yaa”
“ ya udah, kamu Ayana mau ikut ga?” menatap Ayana tajam karena
memang si imut ini ya memang imut dehh…
“ tar yaa sher, aku sama vikta dulu”
“ duluan kalau gitu, yaa…”. Pungkas Sheril
“ sippp,,, sana “ ku lepas rangkulan sheril dari Pundak ku dan
seolah mendorongnya pelahan menuju pintu ku ikuti langkah kakinya.
“ daah Sher, aku sini aja yaa.”
Ku senderkan punggung pada tiang besar depan kelasku.
“ dahhh vikta….. “ Sheril pergi perlahan dari pandangan mataku.
Ayana yang juga berjalan mendekatiku berbarengan dengan sosok
baru itu, tampak Ayana sedang menanyakan sesuatu padanya. Seru sihh kayanya ….
Ayana berdiri disampingku dan juga ada dia disamping Ayana. Mata
ku seolah tak melihatnya dan mata dia pun seolah tak melihatku. Ahh dasar aku yang
kadang masa bodo… aku hanya mendengarkan obrolan mereka tanpa ikut menanyakan
apapun. sedangkan mataku fokus tertuju
pada satpam sekolah yang sedang mengobrol dengan siswa lain dikursi taman depan
sebrang gerbang sekolah. Cepatnya waktu, 30 menit berlalu jam istirahat habis
dan kami pun masuk kembali untuk pelajaran selanjutnya. Sebenarnya sih, nanti
waktu zuhur istirahat lagi buat shalat.
Ibu cantik guru ekonomi Nampak sudah siap menjelaskan jurnal
umum, bukan hal aneh bagi anak IPS maa beda sama anak IPA yang banyak belajar
rumus Fisika, Kimia, dan rumus hidup (Biologi). IPS juga ada rumusnya sihh
yaitu rumus bersosial dan rumus menghitung agar mendapatkan sisi debit dan
kredit yang seimbang dengan keuntungan yang sebesar-besarnya, meskipun itu Cuma
uang dalam bentuk angka dalam angan dengan harapan suatu hari jadi kenyataan. Ya
minimal jadi Chairul Tanjung dehh… Sebelum masuk materi, satu per satu nama disebut
(ini dia nih ritual absen dikenalnya). Hingga
nama terakhir disebutlah Peter Aditama Giarga yang ternyata adalah nama siswa
baru itu.
Kepalaku berputar
kearahnya, hanya memastikan bahwa dia benar bernama Peter Aditama Giarga.
Suasana kelas berubah menjadi sangat hening, hanya suara guru ekonomi saja yang
terdengar. Entah mereka fokus belajar atau mereka fokus pada ketidak
mengertiannya. Sampai tak sadar matahari mulai meninggi, terdengarlah kumandang
adzan dari sekolahku. Siapapun pada saat itu membubarkan diri istirahat dan
untuk mengisi daftar hadir akan panggilan Sang Pencipta dengan melakukan ibadah
Shalat zuhur.
Seusai istirahat
shalat, kami kembali ke kelas melanjutkan ke pelajaran terakhir. Saat itu jiwa
dan raga sudah tak sejalan, raga dikelas sedangkan jiwa sudah dijalanan menuju
rumah. Jadilah belajarnya ga kondusif. Ditambah lagi kalau kelas sebelah udah
pulang duluan. Wahh makin tak menentulah jiwa ini. Sampai akhirnya terdengar “
jam pelajaran telah selesai, seluruh siswa diharapkan pulang kerumah
masing-masing” (bukan ngusir,, maksudnya ga mampir-mampir apalagi melipir dulu
gitu). Aku bergegas merapikan buku kedalam tas dan bangkit dari dudukku.
“Ay, aku pulang
duluan yaa,,” kataku pada Ayana yang juga sedang bersiap pulang. “ya udah Ay,
duluaaan yaaa , dahhhh !!! “ tanpa menunggu Ayana menjawab aku keluar kelas.
Jam 14.30 aku tiba
dirumah, ku dorong pintu “ kreeeeeeekkk” dan ku ucap salam. Halusnya suara ibu
menjawab salamku dikejauhan, nampaknya sih ibu lagi masak didapur.
“dah pulang vik?”
tanya ibu jauh disana. Ku lepas sepatuku, bergegas menghampiri ibu dan ku cium
tangannya tak lupa menjawab pertanyaannya.
“iyaa bu,, cape
sekali aku hari ini bu” ujarku letih.
“ya sudah istirahat,
ganti baju, terus makan. Tadi ibu bikin ayam kecap kesukaan kamu vik” jawab ibu
lirih dan menghapus wajah lelahku.
“yeee ,,, makasihh
yaa bu. aku masuk kamar dulu yaa bu, nanti aku makan”. Aku tinggalkan ibu, pergi
ke kamar.
“kreeeekkkkk” ku
buka pintu kamarku, Nampak Kasur dengan seprei biru menyambutku agar segara
berbaring. Ku simpan tas ku diatas meja. Dan seketika ku lempar badan ini
diatas Kasur, rasanya memang sangaat lelah. Mataku terpejam melepaskan apa yang
kurasakan.
Setelahnya, ku raih
Handphone diatas meja kecil samping tempat tidurku. Tak ada pesan atau
notifikasi apapun, keadaan ini memacu jariku untuk membuka aplikasi facebook.
Aku lihat postingan diberandaku. Begitu banyak dan begitu beragam, mulai dari
yang galau standar sampai galau hyper, ada juga yang lagi puitis-puitisnya
mendeskripsikan cinta. Hmmm.. unik sekali manusia-manusia ini gumamku. Namun
jariku terhenti pada sebuah postingan photo terbaru akun yang bernama Tama
Giarga, dahiku mengkerut heran. Kenapa wajah pemilik akun ini mirip sekali
dengan murid baru dikelasku. Niat hati kepoin timelinenya, apalah daya mataku
terasa berat, tak sadar aku tertidur.
30 menit, aku
terbangun. Saat itu aku sadar masih mengenakan seragam sekolah. Bergegas mandi
dan melakukan aktifitas yang seharusnya manusia lakukan.
“vik, kamu baru
bangun ya?, ayo makan dulu! Keburu dingin nih ayam dicuekin kamu.” Panggilan ibu
yang mengejutkanku yang sedang berdiri didepan cermin.
“iyaa bu, sebentar
lagi”. Sambil ku putar badan ku arah pintu kamar.
“ibu sudah makan?”
tanya ku sambil memilih piring di rak.
“sudah, dari tadi
ibu tunggu kamu… ehh Taunya tidur” kata ibu sedikit sinis dengan mata terfokus mengupas
mangga.
“hehehe….” Tanpa bicara
Panjang aku langsung saja makan.
“Assalamu”alaikum!”
suara ayah yang baru saja pulang kerja.
“waalaikumussalam”
jawab aku dan ibu.
“wahh enaaak nii
lagi makan, kayanya ayah ga disisain” canda ayah yang hanya menolehku, sambil
menuju kamar.
Sebelum ku menggerakan
mulut untuk menjawab ayah. Tiba-tiba ibu menyerobot dengan bangga.
“enak dong yah, kan
ibu yang masak, buat ayah special udah ibu siapin kok. Mau makan sekarang?”
“tidak bu, nanti
saja ayah bersih-bersih dulu nanti sehabis maghrib saja makannya.” Sahut ayah
dengan lirih.
Setelah selesai
makan aku seperti biasa mencuci pirang dan merapikan bekas makanku. Tidak lama
kemudian berkumandang adzan maghrib, ku lihat ayah sudah siap berangkat ke
mesjid dan ibu pun sudah menggunakan mukena. Segera aku bergegas ambil wudhu
dan shalat di kamarku.
Hingga tibalah malam,
aku termenung duduk dikursi belajarku entah apa yang sedang aku pikirkan,
sangat tidak jelas sekali perasan itu untuk aku jabarkan. Dalam resahku
tiba-tiba saja ku ambil handphone ku, dan ku sandarkan badanku di atas Kasur.
Ku lihat kembali akun facebook yang masih saja membawa ku di atas angin dalam
ketidakpastiaanku, apakah ini dia si siswa baru dikelasku. Langsung saja
membuka profilnya, mengejutkan atau tidak faktanya aku sudah berteman sejak
lama pada mayanya akun sosial media.
Tidak cukup puas
rasanya jika tak ku pastikan dengan melihat koleksi photonya. Satu per satu ku
tatapi, anganku tak meraih apa, hatiku pun tak berkata apa. Hanya gumamku keras semakin jelas. Semua
photo terlihat betul sosok manusia itu, ahhh sontak saja saat itu aku tau bahwa
itu adalah benar kamu.
Kamu manusia baru
dalam nyataku dan lama dalam maya ketidaksadaran ku. Mungkin saja esok aku akan
mulai mau berbicara dengan mu, atau mungkin aku akan tetap menjadi teman
mayaku. Entahlah aku saat itu.