Cinta Yang Salah
Seketika asa indahku hancur melebur tak berkeping. Rasanya sudah sulit untuk aku percayai bahkan itu sebuah janji.
Waktu berlalu, dan aku terbiasa jua Kembali ku membuka hati, yang ku pikir saat itu adalah kesalahan yang sama pada akhirnya…
Yang aku tahu ternyata mencintai bukan hanya soal kamu ada dan tanggungjawab bukan soal mencukupi materi, tapi harus saling mengerti sifat, kebutuhan, profesi, dan menyatukan prinsip. Karena Bersama itu bukan soal aku dan kamu, tapi KITA.
Akhirnya pula, semua semakin berbeda, ternyata bahagiaku sejatinya bukan disana.
Saat aku terluka, aku seakan meminta agar ku temui penyembuh, hanya karena “ salah mencintai “ luka bukannya sembuh tapi semakin parah. . .
Banyak hal yang ternyata tidak bisa diimbangi karena perbedaan, dan terlalu memaksakan dengan alasan “sayang” dan tidak ingin menyakiti …
Sampai lelahnya hati, ku putuskan pergi . . .
Berandai-andai, Dia berusaha lebih keras lagi, mau mengimbangi diriku, karena selama ini aku berusaha mengimbangi dan menghargai dia.
Tapi sudahlah, aku tau cinta itu salah sedari awal aku sudah menyadarinya…
Lagi-lagi dipertemukaan pada kenangan masa silam, kisah lama sejak SMA. Aku berpikir dia tak sama, dia tak seperti dan dia jauh lebih baik, dia mengerti prinsipp ku dan kesamaan pada pandangan soal kesejatian.
Semudah dipertemukan mengukir keindahan mengisi hari-hari dengan rencana kedepan, hampir saja merencanakan pernikahan, bahkan sedang Menyusun satu per satu Langkah ke arah itu, , ,
Namun, indah Pelangi tak abadi . . .
Nyatanya kontradiksi, sama tapi tak seirama, mengerti tapi tak berhati, mengimbangi tapi tak melengkapi. . .
Satu kejadian terakhir, dimana argumentasi, hati bersebrangan, terucap bahwa ada keharusan aku untuk mengerti, tanpa dia harus mengerti. Aku harus mendengar tanpa dia perlu mendengarkanku, ingin Bersama tapi tidak dijalan yang sama, mana bisa?
Menuntutku untuk Tangguh, padahal aku rapuh dan dalam rapuhku, tak sedikit pun dia mau tahu …
Aku semakin terpukul, luka kian menjadi besar. Aku memilih mengundurkan diri saat itupun keyakinan ku pudar. Tidak sedikit pun lagi aku bisa bertoleransi pada hatiku yang terluka kedua kalinya oleh orang yang sama.
Hanya amarah dan rasa sudah tak bisa bertahan, dia seakan mau benar, bahkan mungkin lupa pada ucapannya sendiri.
Sejujurnya, sejak pathnya yakin itu … sudah tak lagi ada celah untuk menyatukan, tapia da kata yang terlalu jauh, sehingga bila di akhiri pun tak hanya aku yang merasa kecewa.
“Menikah bukan soal mengatakan “SIAP”!!!. Bukan hanya merencanakan tanpa Tindakan, bukan visi tanpa misi, bukan hanya datang bertanya soal konsep pernikahan, atau seberapa mahar yang diinginkan. Sedangkan dirimu saja tidak mempersiapkan apa-apa dan tidak melakukan apa-apa selain mengatakan rencana yang hanya wacana.
Cinta yang salah,
Salah berpikir,
Salah berpandangan,
Tapi tidak salah untuk di jadikan pelajaran.
Semoga kisah ini, hanya menjadi kisah sepenggal kisah
Tak menjadi apa dan mengapa pada kisah cinta mu..
Menangis karena sepi,
Menangis karena menahan rindu,
Lebih menenangkan,
Daripada menangis karena menyesali
Suatu kesalahan dalam mencintai…
Bersabarlah untuk cinta yang benar,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar